Happy New Year, Everyone!
*tetep happy biar pun lagi sakit hati gara2 flashdisk ga bisa kebuka. hhhhhhh…….
**gambarnya nemu di myspace.
Happy New Year, Everyone!
*tetep happy biar pun lagi sakit hati gara2 flashdisk ga bisa kebuka. hhhhhhh…….
**gambarnya nemu di myspace.
Tadi malam di UGD rumah sakit deket rumah. Sambil nunggu resep, saya ngobrol sama precil-precil. Tibatiba sebuah mobil warna biru tua berhenti di depan pintu masuk ke ruang UGD. Beberapa orang turun, tergopoh-gopoh menggotong seorang pemuda yang kelihatannya pingsan, kemudian menaikkan tubuh pemuda itu ke brankar. Gak berdarahdarah, cuma ada sedikit luka sobek di dahinya. Ranjang dorong itu kemudian dibawa masuk ke ruang gawat darurat, dan kerumunan pun bubar. Beberapa orang, mestinya teman si pasien, ikut masuk. Beberapa menit kemudian, seorang anak muda keluar dari ruang periksa sambil mengusap matanya. Duduk di sebelah saya dan mulai menangis sesenggukan. Beberapa orang kemudian masuk bergantian ke ruang dokter dengan wajah tegang dan bertanya-tanya. Seseorang lantas sibuk dengan telepon genggamnya, mungkin menghubungi keluarga atau teman mereka.
Tak lama, pemuda yang tadinya saya kira pingsan, dibawa keluar di atas brankar yang sama, dengan tubuh ditutup kain putih bersih dari kepala ke ujung kaki.
Dan tangis pun pecah. Pemuda-pemuda tanggung itu, beberapa di antaranya berdandan funky dengan topi, celana selutut atau jins sobek, anting2 di telinga, piercing di hidung, tak kuasa menahan tangis. Lagi, seseorang harus pergi. Di usia yang begitu muda, taksiran saya paling dua puluhan umurnya, mungkin bahkan belum dua puluh.
Karena gak tahan, saya tanya petugas keamanan yang dari tadi mondarmandir di situ.
“Kecelakaan ya, pak? Naik motor?”
“Iya, bu. Naik motor, nabrak truk yang lagi berhenti di pinggir jalan.”
Saat jenazah lewat di depan saya, saya cuma terdiam, menyebut sang Khalik dalam hati, menangisi pemuda yang tak saya kenal, yang harus pergi di usia semuda itu. Dan teman-temannya masih bergerombol, sebagian terisak sebagian lagi diam tanpa suara.
Seberapa dekat kita dengan kematian?
*maafkan tanda baca dan typo. posting ini pake henpon di kamar mandi mumpung msh terbayang dengan jelas yang terekam tadi malam.
Ada saat-saat saya merasa terlalu penuh, terlalu emosional dan kehabisan kata-kata, gak nemu cara yang pas buat mendeskripsikan suasana hati saya. Seperti siang ini.
Kemaren, akhirnya saya ketemu dua manusia yang sama-sama punya tempat istimewa di hati saya. Saya juga bingung gimana jelasinnya. Apa istimewanya, atau kenapa, cuma saya yang tau. Yang jelas, Yati dan Uyo memang bukan sekadar teman atau sahabat online. Mereka beyond itu (lha, bingung kan? saya aja bingung, kok).
Yati yang galak dan tukang protes, temen berantem, musuh, tempat sampah, belahan hati, perempuan yang saya kasihi, sahabat…. halah, ribet sekali, kan? Pokoknya gitu lah. Yang satu lagi, si Uyo. Dia ini yang pertama kali manggil saya ’simbok’ (yang akhirnya diikuti oleh hampir semua temen saya, bahkan juragan belakangan ini ikut-ikutan manggil saya simbok). Laki-laki yang entah kenapa membuat saya jatuh sayang, yang selalu sanggup mengaduk-aduk emosi saya dan bikin saya nangis dengan tulisan-tulisannya, foto-foto hasil jepretannya, kisah-kisah menyentuh yang dia ceritakan lewat blognya (yang udah gak ada). Tapi memang semua yang datang dari Uyo bikin saya mewek: email ucapan selamat ultah, sms, foto-foto hitam putih yang akhirnya dia kirim setelah saya ngambek karena saya belum pernah liat fotonya dimana pun bahkan setelah setaun lebih saya mengenalnya.
Dan kemaren, ditemenin Hedi dan kedua precil saya, akhirnya saya ketemu dan bisa memeluk mereka berdua. Bener-bener memeluk, dengan sepenuh cinta.
*selamat ulang taun, Co. makasih ketemuannya. luv u..
Update: beberapa jepretan Uyo waktu ketemuan. Ada yg udah saya crop di sana-sini demi……yah pokoknya gitu dah.
Uyo emang kereeeennnnnn……