Cerita ini, kekasih, sesuatu yang sungguh tak sanggup kutahankan. Wangi kuntum tanjung yang berserakan di ujung jalan meruak hingga memenuhi udara kamar, dan gambarmu masih saja menari-nari di sepenuh ruang jiwa. Namamu di ujung lidahku.

Dan langit. Langit hanya menambah-nambah daftar sakit hati, karena ia tak menepati janji mengantar gerimis membasahi ujung daun dan kuncup melati. Dingin menusuk tulang sepanjang malam, membuatku mual karena hujan tak kunjung datang, hanya angin yang menawarkan aroma air samar-samar. Keindahan yang tak nyata karena kau juga tak nyata, cuma seraut wajah yang coba kulukiskan di tembok kamar, di langit-langit. Sesaat utuh di sana, detik berikutnya yang tersisa adalah kekosongan.

Dunia seakan runtuh menimpa kepala? Ah, jangan terlalu berlebihan, sayang. Tapi apa ini namanya kalau bukan cinta? Mimpi-mimpiku selalu tentangmu, dan rinduku membuncah, selalu.

Ajari aku untuk membencimu.

(edisi menye-menye yang harus dipublish. saya juga gak suka tulisan ini, tapi ia seperti lewat tiba-tiba, melintas begitu saja di kepala, dan seperti kesurupan, tiba2 saja saya sudah menuliskannya)