this_heart_is_broken.jpg

Pagi ini saya menemukan satu surat elektronik dari seorang kawan. Terlambat dua hari. Dia menulisnya dua hari yang lalu, tapi saya baru membukanya tadi setelah secangkir kopi tanpa gula mengawali ritual saya hari ini. Bodoh. Saya menyesal tidak ada bersamanya saat dia barangkali membutuhkan saya mendengarnya menangis meratapi luka.

Maafkan saya, ya? Kamu tau saya lebih dari bersedia untuk mendengarmu, memberimu kata-kata yang kadang manis berbunga-bunga kadang cuma sebaris umpatan atas kebodohanmu. Kata-kata yang kadang saya pun tak paham artinya karena seperti kamu, saya juga tak selalu lulus dengan nilai sempurna dalam sekolah kehidupan. Maaf saya tak ada bersamamu kemarin, membahas hal-hal tolol dan tak penting kemudian tertawa terpingkal-pingkal sesudahnya.

bisakah kita patah hati bila kita tak sedang jatuh cinta?

pernah kukatakan pada hatiku untuk tidak main-main dengan perasaan, dengan keadaan. dengan sesuatu, pun seseorang yang jelas bersinggungan dengan hati dan tubuhku. pernah kukatakan pada diriku untuk selalu berhati-hati dengan sesuatu. aku merasa kehilangan, pada yang tidak pernah aku miliki. aku menangis, pada yang tidak membuatku luka. aku patah, padahal tidak pernah utuh.

… omong kosong semua kesenangan, karena ternyata aku tidak senang, aku masih mengikutkan perasaan.

bingung, mbok? aku juga. aku cuma tak tau kemana harus bercerita.

Jadi begitu ya? Ah, kamu pasti lupa, kita sudah pernah membahasnya. Bukankah kita sepakat, dia cuma lelaki jahanam berikutnya, seperti mereka yang lain yang melumat atau kau lumat, mencampakkanmu atau kau campakkan? Dan kamu selalu tau, dia adalah seriusmu dalam ketakseriusan kalian, komitmenmu dalam ke-tanpakomitmen-an kalian, kekasihmu meski bukan siapa-siapamu.

Ayo, berhentilah menangis. Kamu harus. Saya temani kamu malam nanti, bicara tentang samudera dan langit luas di atasnya, tentang bulan yang tak secantik kelihatannya, atau tentang bumi yang tetap bulat meski laut bergolak sedemikian hebat. Kalau ini tak menghiburmu, ayo kita bicara yang bodoh-bodoh saja, mencibir mendung yang tak putih tapi juga tak hitam, bahkan kita akan menertawai bintang-bintang.

Nanti, tepat jam sembilan malam, berdirilah sejenak di luar pagar rumahmu. Pandangi satu bintang paling terang yang kau temukan. Kamu akan tau bahwa pada detik yang persis sama, saya juga sedang memandanginya. Ya, itu maksud saya. Saya di sini dan kamu entah di mana, tapi percayalah, kamu tak benar-benar sendirian. Karena kita bernaung di bawah langit yang sama, membisikkan entah doa entah harap pada bintang yang itu-itu juga. Jangan lupa, bawa rokok dan kopimu, ya? Dengan gula dan krim, kan? Kopi saya tanpa gula. Pekat dan pahit seperti biasa.

*dan saya bukan kamu yang sanggup menuliskan kepedihan dengan indah, merangkai puisi cantik hanya pada saat kamu terluka. tidak, ndhuk. saya justru tengah berbahagia.

gambar dari sini.