venus to mars


 

July, 2007

hidup adalah…

Friday, July 6th, 2007

Kalau hidup adalah perjalanan…

Lahir, menangis menunggu ibu menyusuimu, belajar berjalan, sekolah, pacaran, kehilangan keperawanan, menangisi cinta yang patah, kuliah, menikah, kerja, punya anak, menjadi tua dan akhirnya mati, merelakan bangkaimu menjadi santapan lezat sekelompok cacing tanah…apa yang paling kau inginkan untuk mengisi kisah perjalananmu? Bagaimana kau ingin orang mengenangmu?

 



plangi, alangkah indahmu

Wednesday, July 4th, 2007

Plasa Semanggi (Plangi), Rabu 4 Juli 2007. Ada saya, dokter evy yang lucu dan jail ga kira-kira, tapi baik banget sempet-sempetnya bawain saya satu set perfume, body lotion, dan shower gel yang wanginya keren (tenkyu, dok!), ada Lita, Chika yang ternyata masih muda dan anak gaul banget (matanya warna ijo, suwer!), kang Kombor, dan tamu istimewa, si Antobilang yang dateng dari Jogja. Cuma berenam, tapi rameeeee….

Maaf, saya sengaja gak ngajak2 gerombolan yang biasanya, soalnya saya yakin pasti ribet ngumpulin orang-orangnya. Kan weekdays…

Ah udah lah…selanjutnya biar foto saja yang berbicara ya…

 

antobilang.jpg

anto narsis :))

kombor.jpg

Kang Kombor a.k.a Arif Widarto

Psssttt…Antobilang ternyata lucu dan muanis, persis seperti yang saya bayangin selama ini kalo chat ato telponan. Dan dia juga ancur lebur becandaannya. Luv him. Makasih semuanyaaaaaaa……

<

>*ntar saya upload foto2 yang lain. nunggu kiriman dari Antobilang dan jeng Evy. >

 



5 cm, and a new me

Sunday, July 1st, 2007

Sore ini, setelah menyelesaikan halaman terakhir ‘5 cm’-nya Donny Dhirgantoro, saya terdiam lama, dan…nangis, hehehe…

Saya bukan orang yang sangat religius. Biasa-biasa aja. Bahkan sholat pun (aduh, malu!) masih banyak bolongnya. Dan saya paling benci dituturi (bhs jawa = dinasehati) apalagi kalo udah bawa-bawa ayat dan cerita-cerita serem tentang surga neraka. Males banget deh. Tapi buku ini, entah bagaimana, membuat saya memandang dunia, hidup, dan segala sesuatu di sekitar saya, dengan cara yang berbeda. Cerita tentang persahabatan lima anak muda yang menjadi tokoh sentral dalam buku ini seakan membuka mata saya, membangunkan ’saya’ yang lain, yang bukan saya (halah males banget jadi ribet gini yak! kekekke).

Buku yang keren. Kocak, seru, menyentuh. Saya seperti diingatkan pada banyak hal yang sekian lama saya lupakan. Kisah perjalanan mereka berlima ke puncak Mahameru setelah mereka terpisah selama tiga bulan, benar-benar luar biasa. Dialog-dialog ancur dan gila-gilaan khas anak muda, penggalan lagu-lagu keren, dialog-dialog dari film-film bagus, banyak banget bertebaran dari awal sampe akhir cerita. Saya diingatkan, sekali lagi, tentang kekuatan dan keajaiban mimpi dan keyakinan. Dan bahwa kita tak perlu bukti dan hitungan dan rumus-rumus yang rumit untuk membuktikan keajaiban itu. Kita hanya harus mempercayainya.

- Udah? Gitu doang?
+ Udah. Kan emang bukan review. Cuma pengen cerita.
- Yeeeeeeee…..

Dan sore ini, beberapa menit menjelang maghrib, saya menikmati hujan dari balik jendela kamar saya, memandang dan mengagumi rintiknya. Langit yang sama, hujan yang sama. Tapi kenapa rasanya beda banget ya? Lalu saya tengadah menatap langit, sesenggukan, dan tersenyum membisikkan ‘terima kasih,Tuhan…’