Saya benci disepelekan, dimainin perasaan saya. Saya benci merasa ditolak. Heran. Bukankah saya tak pernah mengajakmu memulai permainan bodoh ini? Terjadi begitu saja. Atau barangkali kamu cuma lupa, kenapa kita sampai di titik ini, atau bagaimana mulanya pertemanan yang indah mulai melibatkan rasa. Kamu sangat tau, amat sangat mengerti bahwa saya tak pernah menginginkannya.

Pernah kamu bayangkan sakitnya? Pernah?

Saya menyayangi kamu tanpa pamrih, saya gak pernah minta apa-apa. Kamu sahabat saya dan akan selamanya kamu menjadi sahabat saya, kalau saja kita berdua (terutama kamu, saya rasa) tau saatnya berhenti sebelum kita terjebak di sini, menyadari tak tersisa kesempatan untuk memulai segalanya dari awal. Perih, bukan?

Saya sedih, sekali lagi harus kehilangan. Tapi saya gak akan menangis lagi. Kamu boleh pergi sekarang dan menghilang dari hidup saya. Terlalu banyak drama juga menyesakkan dan membuat saya muak. Pergilah. Seperti dulu, kali ini pun saya sudah memaafkanmu meski hati saya ngilu. Atau kamu ingin tetap tinggal di sini, menjadi teman berbagi cerita dan tangis serta tawa? Kalau begitu, berjanjilah. Berjanjilah kamu akan tetap di sana di sudut hati saya, mendengar omelan saya setiap hari, menyediakan bahumu saat saya terluka, seperti saya selalu merelakan siang dan malam-malam saya sekadar mendengarmu bicara tentang hidup, harapan, cinta, apa saja.

Kalau saja saya punya kuasa memutar balik waktu…

Oh, dan saya memang menyayangi kamu. Itu lebih dari cukup, bukan? Percayalah, ini bukan cinta.

*copy paste email seorang kawan untuk seorang kawan yang lain, yang kemudian diforward ke orang lain lagi, kemudian nyasar ke mailbox saya. kasian kau, nak. pernah berpikir buat masukin laki-laki itu ke dalam karung, memukulinya sampai sekarat lantas melemparnya dari atas jembatan?