venus to mars


 

February, 2007

the power of sms

Tuesday, February 13th, 2007

Membaca tulisan ndoro kakung yang terhormat tadi malam, bener-bener bikin saya ngakak sampe lemes. Lucu sekali, ndoro bilang beliau meragukan bahwa saya ini perempuan. How could he say that, for god’s sake?? Dan di akhir tulisannya, beliau meminta saya melakukan klarifikasi, pembuktian bahwa saya perempuan asli.

Sedikit cerita tentang saya dan ndoro kakung. Saya mengenal beliau sudah cukup lama. Kurang lebih dua tahun yang lalu, saya nyasar ke blog beliau. Tanpa tau siapa dia, saya langsung terkiwir-kiwir membaca tulisan-tulisannya yang cerdas, lucu, dan ’sangat jawa’. Belakangan baru saya tau bahwa ndoro adalah wartawan senior di salah satu koran yang terbit di Jakarta. Dari situ kekaguman saya berawal.

Setelah bisa ( dan berani ) punya blog sendiri, akhirnya saya punya kesempatan untuk mengenal beliau secara pribadi, sekalipun awalnya cuma saling sapa di blog masing-masing. Dan benar kata beliau, selalu ada kejutan di tiap tikungan kehidupan. Siapa sangka, akhirnya kami berdua bener-bener berteman (dalam arti sebenarnya) di kehidupan nyata. Dan tantangan ndoro kemarin, terus terang saja membuat saya mikir, ada apa sih, ini? Apa salah saya sampai beliau terang-terangan memulai peperangan yang gak mutu dengan saya?

Ndoro bilang, dia gak yakin saya ini perempuan tulen. “Saya sebetulnya juga meragukannya, terutama blog nomor 10 karena terus terang saya belum pernah membuktikan keperempuanannya”. Hahaha…bo’ong banget. Mau tau faktanya?

Pertama, jelas beliau tau kalo saya bukan perempuan jadi-jadian. Kita eh kami pernah ketemu, sebulan yang lalu kalo gak salah, dan bersama-sama melewatkan beberapa jam yang menyenangkan di Bogor. Dan saya punya beberapa foto sebagai bukti (nyesel banget gak kepikiran bikin video…).

Kedua, mungkin ndoro lupa atau pura-pura lupa, atau sengaja gak pernah menceritakan tentang seberapa dekat kami berdua selama ini. Ndoro ‘lupa’ menceritakan tentang pesan-pesan pendek ( baca: sms) yang selalu dia kirim ke hape saya, dari pagi sampai menjelang pagi lagi, setiap hari. Amnesia akut atau…

Ketiga, ndoro pernah terang-terangan ngajakin saya nginep di Puncak (walaupun belum kesampaian sampe sekarang karena kesibukan beliau). Ndoro yang terhormat itu bahkan pernah sms saya, “jeng, nanti kalo kita ke Puncak, bapaknya anak-anak gak usah dibawa ya? jangan kuatir, i got my protection with me…” See? Ndoro bahkan sudah siap dengan ‘karet pelindung’.

Keempat, masih soal sms, tadi malam seperti biasa ndoro menyapa saya lewat sms-smsnya yang intimidating. Saya yakin sekali, ndoro tau kalo saya ini gampang kalah sama laki-laki yang nekat dan ‘menyerang dengan brutal’ seperti dia. Dan waktu saya bilang saya mau tidur karena sudah hampir pagi di negara saya, dia jawab, “ok sweetie”. Hmmmmm…ngarep pengen jadi cem-ceman saya yang kesekian ? Hanya ndoro yang tau…

 



jempol dan kondom

Monday, February 12th, 2007

Jempol adalah jari pertama dari lima jari di tangan kita. Secara universal, jika kita mengacungkan jempol, itu tandanya kita sedang menunjukkan bahwa kita ’setuju’ dengan sesuatu. Bisa juga mengungkapkan apresiasi kita terhadap sesuatu atau seseorang. Tapi tahukah anda, bahwa jempol atau ibu jari kita panjangnya selalu sama persis dengan hidung kita? Coba aja ukur sendiri-sendiri kalo gak percaya.

Jempol, katanya, juga menunjukkan ukuran alat genital pada laki-laki. Saya gak tau mana yang benar, tapi joke semacam ini sangat sering jadi bahan guyonan saya dan temen-temen cewe saya dulu. Duluuuu…duluuuuuu….. Katanya sih, semakin gendut ibu jari tangan seseorang, semakin gendut dan makmur juga ukuran alat reproduksinya.

Ah, apa iya? Lha ya jangan tanya saya. Saya gak pernah nyari dasar ilmiahnya, kok. Tapi boleh percaya boleh enggak, menurut pengalaman dan pengamatan saya sih, it’s true.

Lha terus, apa hubungannya jempol dan kondom seperti judul tulisan saya kali ini? Tentu saja ada, sodara-sodara. Katakanlah begini. Satu saat, mungkin anda, para laki-laki,sedang berdiri di depan etalase apotek, dan bingung milih jenis, merek, ukuran, mungkin juga tekstur, warna, dan rasa si karet pelindung yang paling cocok dengan ‘ukuran’ anda. Apa yang anda lakukan, sementara anda harus cepat-cepat memutuskan ‘pilih yang mana’ secara anda sudah kebelet banget?

Solusi paling gampang, anda lihat aja jempol anda. Panjang kah? Gendut atau ramping kah? Nah, dari situ, anda kira-kira sendiri aja, yang mana yang harus anda beli. As simple as that.

Ah, saya ini kok makin lama makin sok tau. Padahal, siapa lah saya ini. Saya bukan penyuka kondom, karena kok rasanya jadi gak ’skin on skin’ ya?

Kalo pengen tau lebih detail, silakan tanya sama ndoro kakung saja, yang kata mas mbilung sih,”jempolnya langsing seperti kelingking”. Saya sih belom pernah perhatiin jempol si ndoro. Tapi kalo benar ukurannya cuma segitu ( ukuran jempol, maksudnyaaa…) , barangkali harus diganjel pake kaos kaki tebal, trus diiket pake karet gelang. “Biar gendut”, kata mas mbilung.

 



blog untuk keseimbangan

Saturday, February 10th, 2007

Membaca tulisan ndoro kemaren tentang bagaimana sebuah blog bisa sangat powerful, dan bahkan sanggup menciptakan gonjang-ganjing dan menuai protes dari sebuah kementrian di negara tetangga, terus terang saja membuat saya sedikit kaget. Di situ, beliau menambahkan, sebagai satu kekuatan baru, katakanlah begitu, semestinya kita para jurnalis palsu ini juga taat terhadap peraturan tak tertulis di ranah blogosphere. Menulislah dengan jujur supaya kredibilitas terjaga, begitu sabda si ndoro.

Beberapa hari yang lalu, saya kebetulan nyasar ke blog seseorang (saya lupa alamatnya, maaf). Dia mengatakan bahwa “ngeblog pun ada etikanya. Jadi, tunjukkan kelas anda.” Wow!

Lalu bagaimana dengan kebanyakan orang, saya nih misalnya, yang ngeblog cuma buat seneng-seneng dan kepuasan pribadi aja? Saking senengnya, saya bahkan punya 5 (lima !) blog yang isi dan temanya beda-beda. Yang venus-to-mars ini, lalu ada lagi satu blog yang amat sangat personal, lebih mirip diary yang isinya cuma puisi dan curhatan saya yang menye-menye. Ada lagi beberapa blog keroyokan, di mana saya dan temen-temen yang sama gilanya bersahut-sahutan menulis tentang hal-hal yang kacau balau dan gak jelas.

Ngeblog, buat saya adalah alat untuk menuangkan apa yang lewat di kepala. Bagus enggaknya, saya gak mikirin. Saya juga gak begitu peduli dengan segala macam etika menulis. Gak apa-apa saya dibilang psikopat. Gak masalah kalo ada yang ngatain blog saya ’saru dan ra mutu’. Apanya yang saru, sih? Saya kan gak pernah memuat gambar orang ‘tumpak-tumpakan’ di sini?

Blog saya cupu dan gak informatif? Lha saya memang bukan penulis, bukan orang media seperti ndoro kakung dan paman tyo. Jadi jangan berharap menemukan sesuatu yang informatif di sini. Menurut saya sih, kalo orang pengen baca informasi serius tentang kejadian-kejadian yang up to date, ya baca aja koran atau situs-situs berita online. Kalau mau yang ‘panas’, ada jutaan situs ‘haram’ yang dengan mudah bisa kita akses. Saya ngeblog cuma buat fun, kok. Di sini saya bisa sejenak melepaskan diri dari dunia nyata dan keseharian saya. Saya merasa kembali menjadi diri saya sendiri. Dan yang paling penting, setelah nulis saya jadi lebih lega, lebih happy, dan gak sakit jiwa.

Singkatnya, saya ngeblog untuk keseimbangan.

catatan: maaf, ndoro. ini bukan pembelaan. saya juga males diskusi soal etika nulis dan ngeblog dengan njenengan. saya pasti kalah bahkan sebelum mulai. siapa lah saya ini, ndoro…:D

 



kosong

Thursday, February 8th, 2007

beberapa saat sebelum tengah malam…

saya : pernah gak, tiba-tiba merasa pengen mati aja?
dia : pengen mati? pernah. tapi terlalu pengecut untuk bunuh diri.
saya : capek, merasa kosong, bodoh, dan gak pengen apa-apa lagi.
……………..
saya : ada gak sih, cara bunuh diri yang prosesnya cepet, gak sakit, dan tetep keliatan cantik?
dia : ada, pake suntik aja. kan bisa pasang senyum manis sebelum mati. tapi jangan suntik KB ya..hehe…ono opo kiiiy?
saya : gpp. cuma lagi sedih dan pengen mati. i’ll be fine. thx, wi. g’night.
dia : i know u’ll be fine. syukurlah kita ini pengecut, yang mau gak mau musti berjuang selama masih hidup. karena memang kita tak punya kuasa untuk sebuah akhir. jangan berhenti, bu !

saya tau saya tak boleh berhenti. saya cuma ingin pergi menjilati luka sendiri. sehari, dua hari, tiga hari. mungkin saya akan kembali. siapa tau…

*makasih banyak buat dewi, perempuan di penghujung hari

 



prolog

Wednesday, February 7th, 2007

kuinginkan mulut yang haus

dari lelaki yang kehilangan masa remajanya

di antara pasir-pasir tempat dia menyisir arus

*diambil dari ‘SAMAN’ by Ayu Utami. dulu, di blog lama, saya beri judul ‘Prolog’