Jempol adalah jari pertama dari lima jari di tangan kita. Secara universal, jika kita mengacungkan jempol, itu tandanya kita sedang menunjukkan bahwa kita ‘setuju’ dengan sesuatu. Bisa juga mengungkapkan apresiasi kita terhadap sesuatu atau seseorang. Tapi tahukah anda, bahwa jempol atau ibu jari kita panjangnya selalu sama persis dengan hidung kita? Coba aja ukur sendiri-sendiri kalo gak percaya.

Jempol, katanya, juga menunjukkan ukuran alat genital pada laki-laki. Saya gak tau mana yang benar, tapi joke semacam ini sangat sering jadi bahan guyonan saya dan temen-temen cewe saya dulu. Duluuuu…duluuuuuu….. Katanya sih, semakin gendut ibu jari tangan seseorang, semakin gendut dan makmur juga ukuran alat reproduksinya.

Ah, apa iya? Lha ya jangan tanya saya. Saya gak pernah nyari dasar ilmiahnya, kok. Tapi boleh percaya boleh enggak, menurut pengalaman dan pengamatan saya sih, it’s true.

Lha terus, apa hubungannya jempol dan kondom seperti judul tulisan saya kali ini? Tentu saja ada, sodara-sodara. Katakanlah begini. Satu saat, mungkin anda, para laki-laki,sedang berdiri di depan etalase apotek, dan bingung milih jenis, merek, ukuran, mungkin juga tekstur, warna, dan rasa si karet pelindung yang paling cocok dengan ‘ukuran’ anda. Apa yang anda lakukan, sementara anda harus cepat-cepat memutuskan ‘pilih yang mana’ secara anda sudah kebelet banget?

Solusi paling gampang, anda lihat aja jempol anda. Panjang kah? Gendut atau ramping kah? Nah, dari situ, anda kira-kira sendiri aja, yang mana yang harus anda beli. As simple as that.

Ah, saya ini kok makin lama makin sok tau. Padahal, siapa lah saya ini. Saya bukan penyuka kondom, karena kok rasanya jadi gak ‘skin on skin’ ya?

Kalo pengen tau lebih detail, silakan tanya sama ndoro kakung saja, yang kata mas mbilung sih,”jempolnya langsing seperti kelingking”. Saya sih belom pernah perhatiin jempol si ndoro. Tapi kalo benar ukurannya cuma segitu ( ukuran jempol, maksudnyaaa…) , barangkali harus diganjel pake kaos kaki tebal, trus diiket pake karet gelang. “Biar gendut”, kata mas mbilung.