
Perempuan itu bermimpi ketemu saya. Katanya, di Jogja, dia melihat saya dalam balutan kebaya entah berwarna apa. Saya tak sempat bertanya. Lalu saya katakan, barangkali itu bukan mimpi. Itu lebih mirip nightmare, gambar-gambar mengerikan. Karena katamu, kamu sedang demam.
Dulu, kata ibu saya, saat suhu tubuh saya makin tinggi meskipun sudah minum obat turun panas, saya lantas berteriak-teriak dalam tidur saya. Girap-girap, kata orang jawa. Saya sendiri gak ngeh, lupa apa atau siapa yang saya lihat dalam mimpi yang pasti menakutkan untuk seorang gadis kecil seperti saya waktu itu. Ah, barangkali saat itu pun saya bukan lupa. Cuma tak ingin mengingat saja. Barangkali saya melihat atau merasakan kehadiran satu sosok tak kasat mata, mengawasi tidur saya yang gelisah dengan mata putihnya. Itu sebabnya saya selalu lupa apa mimpi saya.
Ya, pasti kamu cuma sedang bermimpi buruk, kata saya lagi. Atau mungkin, itu cuma pantulan bawah sadarmu yang benar-benar ingin melihat dan menyentuh saya di dunia nyata. Kamu hanya tak ingin mengakuinya.
Jadi saya katakan lagi padanya, perempuan itu, besok kita akan bertemu. Kamu boleh memeluk saya seperti dalam mimpimu. Dan saya, saya akan merasa bahagia hanya dengan diam-diam menghirup wangi rambutmu.
*gambar di ambil dari sini

