Beberapa hari setelah kepergian mbak Inonk yang mengagetkan kita semua, masih saja sesekali pikiran tentang kematian wira-wiri di otakku. Benar, semua ada waktunya. Tak ada yang tau kapan giliran kita.
Coba kita merenung sejenak, beberapa menit saja. Kalau tiba saatnya kita berangkat menuju keabadian, menemui Kekasih yang sejati, bagaimana kita inginkan Dia ‘mengambil’ kita?
Aku selalu takut pada hal-hal yang menyangkut kematian, dan yang terjadi setelah itu. Jujur saja. Tapi kalau boleh memilih, aku ingin pergi dengan cara yang sederhana dan indah. Di tempat tidur, ditemani orang-orang yang menyayangi dan aku sayangi, diantar dengan lantunan ayat-ayat Tuhan yang menyejukkan. Well, itu juga mungkin keinginan semua orang ya?
Satu lagi, aku ingin Tuhan mengambilku saat anak2 sudah dewasa, sudah jadi orang, dengan begitu lunas sudah hutangku sebagai seorang ibu.
Tapi apa bisa kita memilih? Apa kita punya hak untuk memilih, kapan dan bagaimana kita akan pergi? Sedang kita cuma debu…
Dan kalau waktuku sudah tiba, aku ingin anak-anakku tau, bahwa aku selalu mencintai mereka. Cinta yang ‘tak harap kembali’ seperti kata lagu anak-anak jadul. One more thing, aku ingin suamiku memaafkan ketaksempurnaanku, memaafkan hatiku yang terbelah. Tak perlu dia tau kenapa dan pada siapa hati yang sebelah lagi kuberikan, karena tak akan pernah bisa aku jelaskan itu. Maafkan saja lah…
