Seorang kawan menyarankan untuk bikin semacam pledoi, sebuah pembelaan. Ah, tapi kayaknya gak perlu juga ya? Buat apa? Tapi buat temen2 yang sempet gak setuju atau gak ngerti what’s between the lines-nya, silakan tanya langsung sama temen saya ini, yang udah kenyang saya kaploki meski cuma dalam hati :-)

Ada yang pengen saya ceritain. Ini tentang pembicaraan saya di telepon, dengan ibu saya yang seorang guru esde di satu kampung miskin. Mayoritas murid2nya berasal dari keluarga yang sangat sangat sederhana kalo gak mau dibilang miskin. Ada anak tukang beca, anak buruh tani, yang gitu-gitu lah. Satu hari, sekolah tempat ibu saya mengajar ini berinisiatif untuk menambah kurikulum dengan bahasa inggris. Jadi beliau mem-fotocopy buku basic english buat anak esde, dengan pertimbangan, beli buku di toko buku pasti mahal dan memberatkan mereka.

Tau apa yang terjadi kemudian? Seorang anak perempuan datang untuk bertemu ibu saya di ruang guru. Anak ini, Kristin namanya, sudah gak punya bapak. Ibunya seorang penjahit yang, kata ibu saya, sangat miskin. Tau sendiri, sekarang daripada repot beli kain dan dijahitin ke tukang jahit, orang lebih suka beli baju di pasar atau di dept store. Tinggal pilih model dan ukuran yang cocok, bayar, pulang. Beres. Selesai semua urusan.

Kristin, begitu yang ibu ceritakan pada saya, lalu berkata sesuatu yang saya gak bisa lupa sampe sekarang. ” Bu guru, kata emak, boleh enggak bayar buku bahasa inggrisnya dicicil? ”
Dicicil, katanya. Dan buku yang cuma fotokopian itu harganya cuma Rp. 3.500,- !!

Lalu sesuatu membuat saya kehilangan kata-kata. Seperti dihantam sesuatu, tepat di ulu hati. Meninggalkan ngilu dan rasa marah yang saya sendiri bingung, kepada siapa saya harus marah. Ah, betapa miskinnya kita ternyata ya?

Malam itu saya berangkat tidur dengan sejuta pikiran memberatkan kepala. Tidur saya tanpa mimpi. Cuma ada Kristin, dan betapa ingin saya memeluk bocah ini, mengatakan padanya bahwa dia akan baik-baik saja, bahwa dia boleh memanggil saya ‘ibu’, seperti dua anak lelaki saya.

Itu kisah enam tahun lalu, pertama kali saya bersentuhan dengan sesuatu yang tak saya pahami sebelumnya. Rasa marah yang sangat. Mungkin juga saya marah pada diri sendiri.

‘Kemana saja selama ini ?!’