venus to mars


1st August 2006

HUJAN PERTAMA

FILED UNDER belajar menulis |

Hujan.
Entah kenapa,ia selalu menghadirkan rasa atau suasana tertentu.Wangi tanah yang menguar saat hujan pertama,membawa rasa entah apa yang tak gampang dijelaskan dengan kata-kata.Mungkin semacam deja vu. Seperti saat kita mendengar lagu tertentu,atau membaui aroma parfum yang berasal dari masa lalu. Memaksa kita kembali ke moment yang, entah bagaimana, selalu lekat di otak,meski tak selalu dengan sengaja kita mengingatnya.

Hujan,seperti sebuah lagu,atau wangi parfum yang pernah sangat kita kenal,selalu menghadirkan rasa seperti deja vu,memang. Ia membawa kembali kenangan tentang saat-saat tertentu dalam hidup,bahkan sosok-sosok dari masa lalu. Seperti terseret dalam pusaran waktu.

Dan hujan kemarin sore,memaksaku kembali ke satu kota yang pernah aku singgahi pada satu fase kehidupanku. Jogja. Aroma hujan membuatku tersenyum mengingat dia,mengenang kembali sore-sore yang menyenangkan saat kami menyusuri malioboro,makan jagung bakar di alun-alun,lalu menghabiskan malam di Seni Sono,ngobrol ngalor ngidul dengan teman-teman seniman. Menumpahkan uneg-uneg tentang negeri ini,politik,musik,film,seni murni.Bersama-sama meneriakkan kebencian,dengan semangat dan idealisme yg begitu polos dan muda,terhadap pemimpin republik kita saat itu..hahahaha… Ditemani bergelas-gelas kopi,berbungkus-bungkus kretek,kadang berbotol-botol minunan murahan khas kantong mahasiswa…Hmmm..hujan membawa semua itu kembali sore ini,mau tak mau. Bahkan dapat kurasakan hangat pelukannya,melindungiku dari dingin malam ( atau dini hari ? ) di pelataran Seni Sono,saat satu demi satu teman-teman pergi,menyerah pada kantuk atau jadwal kuliah yang menunggu hari itu.

Ah,hujan…
Dimana dia sekarang? Bahagiakah dia? Masih cintakah dia padaku? Bencikah?
Di mana pun kamu berada,kekasih dari masa lalu,semoga kau dapatkan semua yang terbaik dalam hidupmu. Semoga kamu tetap setia berkarya,bermain dengan warna-warna dan sketsamu yang dulu sangat aku kagumi.

( Masih ingatkah kamu tentang Jogja,atau betapa kita pernah begitu berbahagia ? )

 

 

 

Leave a Reply