venus to mars


6th December 2009

31
Comments

Koin untuk Prita

FILED UNDER komunitas, perjalanan |
From Drop Box

Masih tentang bu Prita yang kasusnya jadi rame lagi setelah proses peradilan menjadi semakin lucu, setidaknya buat orang awam yang gak ngerti hukum kayak saya ini.

Berikut saya kutip beberapa berita tentang ini, plus aksi spontanitas Koin Peduli Prita yang saya ambil dari sana sini.

Metrotvnews.com, Jakarta: Simpati kepada terdakwa kasus pencemaran nama baik Rumah Sakit Omni Internasional, Tangerang, Prita Mulyasari (33), terus mengalir. Setelah putusan Pengadilan Tinggi Banten yang mengharuskan Prita membayar denda Rp 204 juta membuat sejumlah pengguna internet yang tergabung dalam Gerakan Koin Peduli Prita mengumpulkan sumbangan.

Sumbangan yang dikumpulkan berupa uang koin atau receh. Uang koin atau receh sengaja dipilih karena bisa menjangkau semua lapisan ekonomi masyarakat. Selain itu, pengumpulan uang koin akan menepis dugaan komersialisasi dalam gerakan moral ini.

VIVAnews - Aksi dukung Prita Mulyasari dengan mengumpulkan koin receh terus bergulir. Prita merasa sangat terharu atas dukungan yang di luar perkiraannya itu.

“Ini kuasa Allah. Koin itu menurut saya adalah simbol rakyat kecil, yaitu saya,” kata Prita Mulyasari dalam perbincangan dengan VIVAnews, Sabtu 5 Desember 2009.

Prita pun tak kuasa menahan haru ketika mendengar ada aksi pengumpulan koin untuk dirinya. Prita menilai, bila sampai akhirnya masyarakat memberikan koin, itu berarti adalah pelajaran untuk keadilan.

Hingga saat artikel ini ditulis, belum ada angka pasti berapa jumlah recehan yang telah terkumpul, karena sumbangan terus mengalir dari berbagai kalangan. Seperti bola salju, aksi kepedulian bersama ini beredar tak terbendung lewat berbagai social media seperti Twitter, Facebook, dan blog. Bahkan radio aneh yang fenomenal, Kentang Radio, bersedia membantu aksi ini entah gimana caranya. Yah, namanya juga radio aneh, biar mereka sendiri yang mikirin gimana cara mereka ngebantu. Semau-maunya mereka ajalah. Tapi setidaknya itikad baik mereka layak kita apresiasi. Banget. Empat jempol buat Kentang Radio yang dua oknumnya tadi sempet ketemu saya dan beberapa temen blogger di Langsat buat coin dropping.

Kabar terakhir yang saya baca di Twitter, beberapa musisi bahkan berencana mengadakan konser untuk mendukung gerakan koin keadilan ini. Kita tunggu saja.

Untuk tau lebih jauh dan ngikutin berita terkininya, silakan langsung ke situs resmi Koin Keadilan.

Mari rapatkan barisan. Ketidakadilan memang harus kita lawan.

 

 



22nd November 2009

24
Comments

JFW hari kedua

FILED UNDER entertainment, review? |

Gak bisa cerita terlalu banyak soal Jakarta Fashion Week. Hujan yang mengguyur Jakarta seminggu terakhir, selain bikin macet dan jadinya males kemana-mana, juga bikin saya tumbang kena flu parah. Makin gak kemana-manalah saya.

Cuma sempet dateng di hari kedua hajatan gede ini, Minggu 15 November 2009, berbekal kamera seadanya dan hanya nonton fashion show dari APPMI (menampilkan rancangan Rebecca Ing, Hengky Kawilarang, Rudy Liem, dan Oka Diputra) lanjut show tunggal Lenny Agustin dengan Lennor yang menampilkan tema ‘Playful Life’, berikut beberapa foto yang tertangkap kamera (dan lumayan bisa diliat tanpa merusak mata karena blur gak karuan). Sebagian udah saya jadiin kolase untuk menghemat tempat. Halah.

 

From Drop Box

Model-modelnya kurus-kurus dan tinggi-tinggi banget. Yaiyalah mboook…

From Drop Box

Nah ini bikin saya ngikik-ngikik gak sopan. Cowo didandanin kayak boneka gini, aduuuhh….

From Drop Box
From Drop Box

Dua foto di atas adalah karya desainer Hengki Kawilarang. Judulnya Unlimited Paradise. Cantik. Keren. Modelnya kurus-kurus dan tinggi-tinggi *tadi udah ya?*

From Drop Box

Yang selalu jadi perhatian saya dan bikin saya geleng-geleng gak habis pikir adalah: sepatu. Gimana caranya mbak-mbak itu berlenggak-lenggok di runway dengan alas kaki setinggi dan selancip itu tanpa nyusruk jatuh ke kursi penonton ya? Liat deh sepatu-sepatunya. Keliatan banget kalo gak enak dipake. Saya gak akan tahan jinjit-jinjit pake yang beginian lebih dari sepuluh menit. Berani taruhan.

 



21st November 2009

15
Comments

Ngerumpi[dot]com, teori Maslow, dan New Wave Marketing

FILED UNDER komunitas |
From Drop Box

 

Bicara tentang New Wave Marketing dan hubungannya dengan kebutuhan dasar manusia yang digambarkan dalam piramida Maslow (Maslow’s hierarchy of needs) seperti dimuat di artikel Kehidupan Sosial Bagi Seluruh Masyarakat New Wave, saya ingin menggarisbawahi satu hal: Maslow is right.

It’s true, bahwa setiap individu pada dasarnya punya kebutuhan untuk diakui keberadaannya, dihargai, dan diterima dengan baik oleh lingkungannya. Buat sebagian golongan, saya rasa tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa kebutuhan sosial, needs untuk diakui dan diterima ini tingkatannya hanya sedikit saja di bawah kebutuhan dasar yang bersifat fisik seperti makan, minum, dan tidur yang berkualitas. Oh well, setidaknya itu berlaku buat saya dan sebagian kecil teman di lingkaran saya. 

Contoh paling real? Gampang. Kebetulan beberapa bulan terakhir ini saya (bersama salah seorang kawan) dipercaya untuk mengelola sebuah situs berbasis web 2.0, ngerumpi.com (http://ngerumpi.com), satu situs yang sesuai tuntutan jaman memang harus user generated content, di mana semua user/member bisa menulis artikel dan mengomentari artikel-artikel yang ditulis oleh user lain kemudian bersama-sama mendiskusikannya.

Pada minggu-minggu pertama, sesuai konsep dan cita-cita awal dari ngerumpi.com, situs yang semula ditujukan bagi pembaca dan pemerhati masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan dan dunia seputar perempuan ini hanya diramaikan dan diisi oleh teman-teman terdekat kami berdua. Namun setelah sekian bulan berjalan, tercatat jumlah user di ngerumpi sudah melampaui angka 1.300 orang. Dan kami semua, seribu tiga ratus lebih member ini menjelma menjadi seperti sebuah keluarga besar, dengan beragam latar belakang pendidikan dan usia. Komunitas era 2.0 yang melewati batas dan sekat-sekat tradisional bahwa seseorang hanya akan merasa nyaman dan diterima sekaligus terpenuhi kebutuhannya akan aktualisasi diri, self esteem, rasa dihargai dan menghargai, jika dan hanya jika berada di tengah kelompok yang ’sejenis’.

Kami di ngerumpi.com telah membuktikannya. Barangkali tidak berlebihan kalau saya katakan, ngerumpi berhasil menjadi konektor sosial (online maupun offline) yang merangkul sekian banyak orang dari berbagai kalangan dan status sosial menjadi satu komunitas yang solid. Dan seperti dijelaskan di artikel New Wave Marketing bahwa online social media semakin menguatkan teori Maslow akan kebutuhan manusia berinteraksi dan diterima di lingkungan sosialnya…ya, saya mengamini sepenuhnya. 

note: artikel ini untuk Bloggers @ MarkPlus Conference 2010

 

 



15th November 2009

57
Comments

cinta adalah…

FILED UNDER belajar menulis |
 

Cinta adalah sekeping senja yang basah, jalanan yang padat dan memaksaku berkali-kali memaki hujan yang tumpah.

Tapi bagaimana bisa kita menyalahkan hujan? Aku menyukai dingin yang menyertai tiap helainya, dan pipiku memerah ketika tanpa sengaja tangan kita bersentuhan.

Hujan. Kita menepi, menemukan sebuah sudut dengan kursi empuk yang nyaman dan menularkan kehangatan. Lampu-lampu gantung dengan sinarnya yang temaram. Aroma kopi, sekaleng bir yang kamu nikmati berlama-lama di tengah obrolan panjang, dim sum, dan senyummu yang teduh dan memabukkan.

 

 

 



12th November 2009

29
Comments

JFW

FILED UNDER entertainment |

Dunia fashion, dari dulu gak pernah menjadi sesuatu yang penting buat saya. Gak pernah. Eh bukannya gak penting, tapi saya memang bukan penggemar fashion sih ya… Gak doyan dandan, gak suka belanja gila-gilaan, dan bukan perempuan yang selalu ingin tampil modis. Pokoknya fashion bukan saya lah.

Kalo jalan di mall atau di mana gitu, liat perempuan-perampuan yang berseliweran dengan dandanan yang memikat mata *halah*, baju -baju yang sepertinya diciptakan nyaris seragam –karena begitulah yang namanya fashion– saya juga gak pernah kagum atau iri walau pun sebenernya saya dilahirkan sebagai pendengki sejati. Lha!

Trus kenapa sekarang saya nulis soal fashion padahal buta mode banget?

Dua hari dari sekarang, tanggal 14-21 November 2009, selama satu minggu penuh, Femina group ngadain event Jakarta Fashion Week, satu perhelatan mode gede-gedean berstandar internasional *hasyah* yang taun ini diadain di Pacific Place (eh pasific place di mana sih? sebelah mananya monas?). Dan beruntung banget saya dapet undangan buat dateng dan meliput acara ini. Belum tau juga apa yang harus saya liput dan tulis nantinya sebagai hasil liputan, yang jelas saya semangat banget dateng. Siapa tau bisa ketemu dan salaman sama Nicholas Saputra *gak ada hubungannya*