Cinta Seminggu Penuh

Minggu ini rasanya penuh banget. Meluap-luap oleh begitu banyak kebahagiaan. Gimana menggambarkannya, ya?

Rabu, 11 Januari 2012.

Atas nama cinta, bukan uang –karena tidak selalu semua urusan harus ada hubungannya dengan uang– saya bantuin temen-temen KratonPedia di event Obrolan Langsat. Membahagiakan sekali rasanya, ketika suatu acara di mana kita terlibat di dalamnya, seberapa pun kecilnya keterlibatan dan kontribusi yang kita berikan, sukses dan diakui banyak orang adalah salah satu event Obsat terbaik yang pernah ada.

Audience yang luar biasa, team yang kompak dan super keren, performance Wayang Groove yang membuat semua orang terpesona dan seolah tersihir oleh penampilan mereka, sungguh sebuah kebanggaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Bonus istimewanya, saya berkesempatan melakukan wawancara dengan para personil kelompok perkusi asal Solo ini. Oh, dan saya sempet meng-interview Dinar, gitaris Seurieus Band, yang malam itu berkolaborasi dengan Wayang Groove.

Gak pa-pa diledekin temen-temen bahwa ini modus tertentu untuk tujuan tertentu, hahaha.. Saya bukan oportunis. Saya hanya penulis amatiran yang impulsif, bergerak berdasarkan insting jurnalis, yang juga amatiran. Oh, ini keren nih kalo saya bisa interview mereka. Gitu aja sih..

Sabtu, 14 Januari 2012.

Ngerumpi.com, buat saya adalah sebuah rumah besar yang dihuni oleh ribuan anggota keluarga. Bersama Silly dan dengan dukungan penuh kawan-kawan di Langsat, rumah ini dibangun dari nol besar. Batu bata pertama diletakkan tanpa kami semua benar-benar tahu, akan seperti apa rumah ini nantinya.

Modal kami semua hanya sebentuk mimpi. Keinginan besar, juga keyakinan bahwa semua orang pada dasarnya membutuhkan panggung untuk ber-ekspresi, apa pun bentuknya. Ngerumpi.com menyiapkan panggung itu, memberikan tata lampu terbaik yang kami bisa, mengapresiasi setiap karya, setiap tulisan. Kalau sekarang Ngerumpi jadi sebesar ini, mari berterima kasih kepada Tuhan yang memudahkan segalanya.

Dan Sabtu 14 Januari 2012 itu, kami berkumpul di Restoran Es Teler 77, Jalan Adityawarman, menggelar event off air yang kami beri nama keren: Ngerumpi Awarding Night. Kopdar, kumpul-kumpul, makan-makan, arisan bulanan. Ada sharing session dengan tema “Self defense for women” oleh suhu Yohanes Hans, ada presentasi dari dua komunitas yang lahir dari Ngerumpi: Antologi Orange dan Buku Berkaki. ‘Gong’nya adalah pemberian piagam penghargaan dan sedikit hadiah buat para warga Ngerumpi, yang kami anggap layak mendapat apresiasi lebih, karena kontribusinya dalam meramaikan rumah bersama ini.

Minggu, 15 januari 2012.

Kelar acara Ngerumpi Awarding Night, Nunik (salah satu kawan moderator Ngerumpi) bilang kalo kita akan ada meeting di tempat lain.

“PR kita masih banyak lho, mbok. Masih banyak yang harus diomongin dan diurus buat event bulan April.”

Saya yang kelelahan cuma bisa pasrah dan nurut aja diajakin pindah tongkrongan ke Cipete Raya. Yang saya gak tau, perjalanan Adityawarman ke Cipete ternyata panjang dan menyebalkan. Macet, beberapa ruas jalan ditutup, dan tolong dicatet, saya udah capek banget. Jadi jangan salahin kalo saya sebal setengah mati sama Nunik. Idenya untuk pintong ke Cipete sangat gak masuk akal. Ngomongin kerjaan toh bisa lain waktu, pikir saya.

Ajeng, di sebelah saya, ngomong gak berhenti-berhenti, bikin saya makin sebal. Emosi udah naik tinggi ke ubun-ubun. Bajaj dan pengendara motor yang seenaknya nyerobot jalan… Aduuuh rasanya pengen nabrak atau setidaknya nyerempet mereka biar kapok. Pengen nampar Ajeng yang tiba-tiba diem gak bersuara lagi, dan pas saya nengok, ternyata dia lagi asyik nge-game. Pengeeeen banget nyemprot dia, “HEH! ENAK AJA NGE-GAME! YA ELU ENAK TINGGAL DUDUK. GUE CAPEK NYETIR, TAU?!”

Long story short, pintongan itu ternyata skenario mereka, sahabat-sahabat dan keluarga saya di Ngerumpi. Juga mbak Oettie dan dua precil saya, untuk ngasi surprise birthday party yang malam itu membuat saya beku, bingung gak tahu harus ngomong apa. Hanya bisa diem, mati-matian menahan diri supaya gak nangis.

Ada kue ulang tahun dari Kopiholic dan Novel. Ada kado asbak dari Celo. Ada cinta yang tulus dan hangat.

Kue ulang tahun, kado, dan cinta. Apa lagi yang pantas saya minta? Yang saya dapat sepanjang malam hingga dini hari itu adalah anugerah luar biasa.

Terima kasih. Saya sayang kalian semua.

Tiga Enam Lima

From Drop Box

Postingan hari ke-365 tahun 2011.

Tahun yang panjang, penuh tikungan tajam, tapi kadang memang kita tak punya banyak pilihan, bukan? Toh sesekali, hidup juga memberi kesempatan melakukan sesuatu yang besar dan menyenangkan. Setidaknya untuk diri sendiri, dan orang-orang terdekat. So no, I have nothing to complain about.

Tahun 2011. Tiga ratus enam puluh lima hari yang penuh warna. Saya menikmati setiap detiknya. Setiap kelokan, persimpangan, jalan menanjak, dan pemandangan menakjubkan sepanjang perjalanan.

Tuhan, terima kasih.

The Sweetest Friend of All

Weird is when you realize that somewhere somehow, everytime the world brings you down, you always have a friend to run to. A real friend, or sometimes two.

Friends. They’re all I need. I won’t ask for more.

Saya pernah menulis itu beberapa waktu yang lalu. Now let me tell you the truth. The whole story.

Bicara tentang teman, sahabat, atau apa pun namanya, sebetulnya agak sulit mendefinisikan bentuk pertemanan kami berdua. Saya bahkan gak yakin, dia ada di list yang mana; sekadar teman, teman dekat, atau sahabat. Kami tidak sedekat dua orang yang benar-benar bersahabat. Tidak sedekat itu. Tapi di saat yang sama, dengan cara tertentu yang rasanya hanya kami berdua yang paham, barangkali dia adalah salah satu dari beberapa teman yang saya percaya.

Begini saya menggambarkannya.

Saya dan teman yang satu ini, bisa dibilang hampir tak pernah saling menelepon atau berkirim kabar. Kami bicara dalam bahasa yang berbeda. Saya benci beberapa hal tentang dia. Saya tidak suka dengan hal-hal tertentu yang dia suka atau percayai. Saya yakin, dia juga begitu. Hanya karena telah saling mengenal cukup lama, saya belajar untuk menutup telinga dan mata rapat-rapat, sekaligus menahan mulut saya untuk mengomentari apa pun yang sebetulnya, buat saya, cukup mengganggu.

See, kami tidak sedekat itu.

Di sisi lain, kadang-kadang saya merasa hanya dia satu-satunya kawan tempat saya berbagi cerita. Entah bagaimana, sepertinya dia selalu tahu ketika saya sedang butuh seseorang untuk mendengar sumpah serapah saya. Saat saya mengira sedang jatuh cinta, atau ketika saya tengah tersandung dan berdarah-darah, dia ada untuk saya. Selalu ada.

Suatu pagi, misalnya, dia tiba-tiba muncul dengan pertanyaan lancang, “I heard you broke up. Ada apa? Mau cerita?”

Lantas tumpahlah semuanya. Dengan dia, saya seperti buku yang terbuka. Saya tidak malu menceritakan ketakutan, kegelisahan, dan kemarahan saya. Dan dia, selama jam-jam yang panjang itu, ada di sana, mendengar semuanya. Menyediakan diri untuk jadi teman terbaik, memberikan tangannya untuk saya genggam, membiarkan saya menemukan kembali sedikit kekuatan.

Di waktu yang lain, malam-malam, tiba-tiba kami sudah duduk satu meja, tanpa benar-benar saling bicara. Pertemuan kesekian tanpa kami rencanakan. Hanya karena dia tahu saya sedang merasa kacau, kemudian, seperti tahu betul apa yang saya butuhkan, dia bilang, “Ya udah, ke sini aja. Aku anterin kamu jalan-jalan. Ke mana pun kamu mau.”

Padahal di sana, saya lebih banyak diam dan menikmati suara ombak di pantai, tepat di depan kami. Melihatnya mendekatkan botol bir ke mulutnya. Melewati sisa malam dengannya, dan bersyukur bahwa setelah sekian tahun, dia masih di sana. Masih seseorang yang bisa saya percaya.

Ya. Kami sedekat itu. Tapi soal apakah dia boleh disebut sebagai sahabat, rasanya memang sulit dijawab.

Now do I love this guy? Sepertinya tidak. I like being with him, tapi dia bukan kekasih saya. Saya hanya suka kebersamaan kami, dengan bahasa yang hanya kami berdua yang mengerti.

*kamu, terima kasih.