
Mendadak kepikiran, kayaknya lucu juga kalo saya bikin lomba nulis puisi cinta, ya? Hadiahnya 5 (lima) buku When Silly Met Venus buat masing-masing pemenang yang puisinya paling keren.
Syaratnya gampang. Yang penting harus orisinil dan belum pernah dipublish di media mana pun, ditulis dalam bahasa Indonesia, bukan copy paste, bukan puisi terjemahan, dan gak boleh nyontek karya orang lain. Silakan publish di blog masing-masing dan jangan lupa trackback ke postingan ini. Saya tunggu sampe 12 Februari 2010.
Berani?
Februari. Bahkan sebelum Valentine’s Day tiba, aroma cinta terasa begitu pekat menggantung di udara. Dan seperti sebuah keharusan, dengan mudahnya kita temukan kotak-kotak kado cantik merah muda, mawar-mawar imitasi, dan ornamen bergambar hati di mana-mana.
Buat sebagian orang, barangkali cinta hanyalah sebuah kata benda yang terlalu biasa saking seringnya kita dengar dan ucapkan. Tapi tidak buat saya. Ia adalah hasil akhir dari suatu proses panjang. Mencintai, artinya seseorang paham dan tau memaknai segala manis getir di setiap putaran kehidupan, belajar dari setiap kesalahan, sesekali menertawai kesialan, dan bersyukur bahkan atas tiap tetes air mata yang kita sembunyikan. Cintalah yang membuat kita hidup. Dan pada tataran tertinggi, buat saya, cinta adalah kehidupan itu sendiri.

Dua buku di atas, When Silly met Venus dan Berbagi Cerita Berbagi Cinta, mungkin bukan karya terbaik saya. Belum. Rasanya masih jauh dari sempurna untuk dengan bangga saya pamerkan kepada semua orang bahwa saya bisa menulis dan punya karya. Mimpi saya belum seutuhnya terwujud. Tapi apa pun, kedua buku ini ada dan lahir karena mimpi tanpa batas, harapan, dan kesungguhan. Sisanya adalah keajaiban.
I’ve done my part. Semesta melakukan tugasnya, dan cinta menggenapinya.
Iya, tau. Saya telat kemana-mana. Orang lain udah nonton film ini dua atau tiga kali, semua orang rame ngomongin Rumah Dara dari kapan-kapan, dan saya baru nonton kemaren. Sendirian. Itu pun gak niat nonton tadinya. Bukan gak pengen sih, tapi kemaren nontonnya emang bener-bener karena saya gak tau mau ngapain atau mau kemana. Tiba-tiba aja pengen jalan, dan terdamparlah saya di Cibujang.

Gak dapet tiket jam 7 gara-gara kejebak macet jahanam, pengennya langsung beli yang jam 9 malem, tapi mbak-mbak di 21 bilang, “belom ada yang beli tiket jam 9. kalo sendirian gak ada orang tetep mau nonton?”. Wah ya gak mau lah, mbak. Males aja. Dan jadilah saya keliling-keliling dulu, mampir toko buku sebentar, trus nongkrong ngopi sambil baca The Lost Symbol.
Lima menit sebelum jam 9, saya naik. Lumayan, ada sepuluh penonton lain di ruangan segede itu.
Film Rumah Dara menurut saya? Sakit. Sumpah sakit ini film. Kayaknya emang belum ada film Indonesia sejenis dan sebagus film ini. Akting hampir semua pemainnya bagus, kecuali kemunculan Aming yang agak-agak ganggu dan bikin ilfil. Kenapa harus ngerusak ketegangan yang udah terbangun di kepala penonton sejak awal film, sih? Gak penting banget.
Skala 1-10, saya kasi 9,5 buat Rumah Dara. Kalo pake bintang, 4,5 dari 5 bintang deh. Keren gilak!